Rabu, 29 April 2015

What I did This Morning.....

Salatiga, 29 April 2015
9:12 pm

What I did This Morning.....

Pagi ini sekitar pukul 10.10 am, saya keluar rumah. Keluar untuk bertemu dengan dua teman se-sie dalam sebuah panitia. Dengan keadaan perut yang sedikit merasa lapar karena belum sarapan, saya akhirnya memutuskan untuk mampir sebentar ke warung untuk membeli cemilan. Hanya bisa beli tiga buah tango (sorry for mentioning the brand :D) karena uang yang masih setia di dompet hanya Rp. 3.000,-.
Sambil berjalan dengan semangat (sebenarnya sih karena sudah telat :D) saya membuka bungkus pertama tango yang saya beli dan memasukan ke lambung yang terasa mulai kosong. Saya terus berjalan.
Beberapa menit kemudian di sebuah gang kecil, saya bertemu dengan seorang ibu. Ibu tersebut sedang membawa sebuah karung putih besar yang sudah agak koyak sehingga bisa kelihatan beberapa bekas botol air mineral didalam karung tersebut. Saya tersenyum dan disaat bersamaan ibu tersebut tersenyum kearah saya dan mengatakan 'monggo mbak'. Ramah sekali. Ternyata ibunya tidak sendiri. Ada seorang anak laki-laki kecil kira-kira seumuran adik bungsu saya yang berjalan di belakang ibu tersebut. Mungkin dia anak ibu tadi, pikir saya. Saya tiba-tiba terpikirkan dengan tango yang ada dalam tas saya. Saya membuka tas dan melihat masih ada 2 bungkus. Saya berbalik dan memanggil adik itu lalu menanyakan apa ia mau tango, dia mengganngguk dan menyambut pemberian kecil itu. Dia kemudian berlari menyusul ibunya dan berbicara dengan girang ke ibunya dalam bahasa Jawa yang artinya tidak saya pahami :D.
Setelah berjalan beberapa meter lagi, saya mengambil sisa tango yang ada dalam tas saya dan membuka bungkusnya. Sementara itu saya tiba-tiba ingin melihat-melihat bungkusnya. Saya tertegun ketika melihat tulisan "expired : 12-12-2014". Saya merasa bersalah. Rasa bersalah yang bertambah ketika mengingat bahwa saya sudah memberikan satunya ke adik kecil yang saya jumpai tadi. Pasti adik tersebut sudah memakan habis. Saya bingung harus melakukan apa dengan tango expired yang ada di tangan saya. Sejenak ada niat untuk membuang, selayaknya memang harus dibuang karena tidak baik lagi untuk dikonsumsi. Saya berpikir sejenak. Saya akhirnya memakannya karena saya yakin adik tersebut juga sudah memakannya. Setidaknya keputusan tersebut mengurangi rasa bersalah saya :)
Mungkin kejadian tersebut begitu simple dan sering terjadi pada kehidupan banyak orang tapi bagi saya, hal-hal kecil seperti tadi memberi banyak pelajaran. 

Jangan ditiru ya! :)


Jumat, 17 April 2015

PERSAHABATAN & PERBEDAAN

Salatiga, 9 April 2015.
07:42 pm


Ini yang ada didalam otak saya. ini yang saya tulis. hanya bermaksud berbagi dan semoga bermanfaat, jika tidak abaikanlah dengan senang hati :D

Persahabatan. Kata dasarnya “Sahabat”. Sinonimnya : teman ; Kawan; konco atau di daerah asal saya Halmahera : “tamang”.
Ikatan yang begitu luar biasa. Kehadiran mereka begitulah berarti. Berbagi kesenangan dengan mereka, kadang pula berbagi kesulitan atau kesedihan bersama. Yang sangat sulit terasa terlalu mudah bila bersama. Hal ini tidak perlu dipertanyakan lagi kebenarannya. Ini bukan teori. Ini adalah apa yang dirasakan semua orang.
Tapi, pernahkah anda merasa berbeda dari sahabat-sahabat anda? Mungkin jawaban anda, pernah. Tentunya pasti pernah. Faktanya tidak ada yang benar-benar sama di dunia ini. Masing-masing manusia berbeda. Masing-masing manusia unik. Unik dalam segala aspek, baik aspek bio, psiko, sosio, cultural maupun spiritual.
Acap kali kita memuja-muja betapa indahnya perbedaan. Kita mengatakan ‘perbedaan membuat segala hal menjadi lebih berwarna’ kalau tidak berbeda maka betapa membosankannya hidup ini. Dan KENYATAANNYA demikian. Kita tidak salah! Akan tetapi, tak jarang juga kita berselisih pendapat karena perbedaan.
Jika masing-masing manusia begitu banyak perbedaannya, apakah sebagai sahabat ‘segala sesuatu’ kita harus sama? Atau harus di’sama’kan? Bagaimana dengan kalimat ‘perbedaan itu indah’?  Bagaimana dengan kalimat ‘jadilah dirimu sendiri!’?

Salatiga, 17 April  2015
4.38 pm

Sekarang saya mencoba tekankan dalam satu aspek. Posisikan diri anda menjadi satu-satunya pribadi yang sedikit berbeda dari sahabat-sahabat disekitar anda. Ingat lagi bahwa ini hanya satu dilihat dari ‘satu’ aspek dimana ada kaitannya dengan ‘prinsip’ atau sesuatu yang anda percaya itu ‘benar’ dan ‘harus dilakukan’.
 Ketika hal tersebut tidak disukai mereka karena mereka melakukan hal yang sebaliknya ataupun ketika mereka pernah meminta anda merubah hal itu, apa yang harus anda lakukan?
Mungkin anda pernah mengalami hal ini dengan versi masing-masing. Anda pasti sudah pernah melaluinya dengan solusi terbaik menurut anda. Mungkin juga anda akan berkomentar bahwa ‘ah hal ini mah biasa, ga penting kenapa harus dibahas?’ Itulah mengapa tak jarang banyak anak remaja yang berubah karena lingkungannya. Agar  menjadi sama dengan orang-orang di sekitarnya dengan alasan masing-masing, entah adaptasi maupun banyak alasan lainnya.
Saya? Pastinya ketika menulis ini saya sudah mengalaminya dan keputusan yang sudah saya buat adalah tetap menjadi diri sendiri. Dan bagaimanapun, jika mereka adalah sahabat mereka akan menerima ‘prinsip’ tersebut karena menurut saya bukan ‘sahabat’ namanya ketika kita hanya behubungan karena kita sama dalam segala hal. Ini merupakan pendapat saya.
Point penting adalah tidak ada yang berhak menentukan pilihan anda kecuali diri anda sendiri, apalagi hal ini mengenai prinsip hidup anda. Anda ingin memilih jadi diri sendiri atau menjadi seperti yang orang lain kehendaki atas diri anda adalah keputusan anda sendiri. Dan juga, tidak ada yang berhak mengadili anda. Jika ada yang melakukannya, tidak perlu peduli karena hidup terlalu singkat untuk hal-hal demikian.
Point yang lebih penting lagi adalah saya mengasihi semua orang, apalagi ‘sahabat’ saya. Selain keluarga, mereka merupakan anugerah Tuhan lainnya yang selalu saya syukuri.
Terima kasih Tuhan Yesus untuk semuanya selama 19 tahun ini. Anugerah yang ada disekitar saya sungguh berlimpah dan tidak ada alasan bagi saya untuk tidak bersyukur atas setiap detik yang terlewati. Hallelujah!
Amelda Tigapo
19 Tahun